Hal-Hal Yang Tidak Dan Yang Membatalkan Puasa

Sudah menjadi fitrah dan kewajiban seseorang untuk mempelajari mana yang membatalkan puasa dan mana yang tidak; karena hal yang demikian itu termasuk “Maa Laa Yatimmu Al-Wajib Illa Bihi Fahuwa Waajib” yaitu tidak akan sempurnanya sebuah kewajiban kecuali dengan mengetahui hal itu, maka hukumnya sama-sama wajib.
Yang ingin penulis ungkapkan ialah hal-hal yang sering dipertanyakan oleh teman-teman dan saudara-saudara kita seperti:
(1) masuknya sesuatu ke lubang telinga, (2) menelan dahak (mukhot) dengan semua perinciannya yang menurut penulis adalah pelik (seperti di dalam madzhab syafii misalnya), (3) masuknya air ketika berkumur telalu kuat (al-mubalaghoh fi al-madhmadhoh), (4) masuknya air ketika beristinja’, (5) suntik dengan segala jenis dan macamnya (infus, bius, obat dll), (6) ketika mengirup air (istinsyaq) terlalu kuat (mubalaghoh) ketika berwudhu’ (7) menggunakan alat bantu pernafasan bagi yang menderita sesak nafas dan hal-hal yang semakna dengan yang penulis sebutkan.
Sebelum masuk ke pokok permasalahan, alangkah baiknya jika kita kaji terlebih dahulu Maqosid Al-Syariah yang terkandung di dalam hukum puasa. Puasa yang dalam etimologi bahasa Arab-nya berasal dari kata al-shoum, atau al-shiyam yang memiliki arti: “menahan” (al-imsak). Dan menurut terminology syar’iat, memiliki makna: “menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa” (al-imsak ‘an jami’ al-muftiroot). Dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa hanya bisa diambil dari argument-argumen (dalil-dalil) syar’iat. Sehingga, jika tidak memiliki landasan hukum, maka sama halnya dengan tahakkum (pendapat tak berargumen). Dan hal yang bersifat demikian, perlu dibanahi dan diluruskan.
Nah, tujuan diwajibkannya puasa ialah: agar bisa menahan diri dari (1) makan, (2) minum, (3) muntah, dan (4) bersetubuh disengaja; karena hadist-hadist yang shohih menunjukkan hal itu. Jika yang membatalkan puasa hanya hal-hal ini, maka bagaimana dengan 7 hal yang penulis sebutkan diatas ?? apakah dapat membatalkan puasa atau tidak ??.

Memang di dalam beberapa madzhab fiqh, seperti Al-Syafi’iyah [Al-Bayan, III hal 503], Al-Malikiyah [Al-Kafi, I, hal 345], Al-Hanafiyah [Fathul Qodir, II, hal 341] dan Al-Hanabilah [Al-Kafi, I, hal 443]. Kitab-kitab tersebut menjelaskan bahwa 7 hal diatas dapat membatalkan puasa. Kecuali berkumur dan memasukkan air ke hidung terlalu kuat di ibadah yang sunnah, menurut syafiiyah -kecuali menurut Al-Amroni di dalam Al-Bayan; maka dua hal hukumnya sama yaitu tidak membatalkan puasa- dan begitu pula dengan Hanabilah.

Masalah suntik (huqnah) terdapat 3 pendapat:
(1) ada yang berpendapat dapat membatalkan puasa secara mutlak,
(2) membatalkan puasa jika masuk otot,
(3) dan pendapat yang membedakan antara: yang statusnya sama seperti makanan (mughodzdziyah) -dan ini yang menurut penulis ialah pendapat terkuat- seperti infus misalnya, maka dapat membatalkan puasa; karena jika seseorang diinfus selama berhari-hari tanpa makan tidak akan merasakan madharat apapun, maka hukumnya sama seperti memakan makanan. Dan dalam hal ini, argumen yang digunakan adalah Qiyas (analogi) atas makan dan minum. Dengan ‘illah yang sama yaitu: mengenyangkan/memuaskan.
Bahkan, para ulama membuat sebuah dhobith (kaidah, standar) bahwa: “kullu maa washola ila al-jauf yufthiru al-shoim (semua yang masuk ke dalam perut/otak dapat membatalkan puasa)”, oleh karenanya, hal-hal yang biasanya tidak dianggap makanan (maa laa yu’addu tho’aman) seperti dahak, tanah, batu, kerikil, benang, ataupun yang lainnya dapat membatalkan puasa.

Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, argument-argumen yang dijadikan landasan hukum untuk 6 hal diatas kembali kepada qiyas, dan ‘illahnya ialah kaidah yang penulis sebutkan sebelumnya (dan illahnya tidak layak dijadikan tendensi, sebagaimana Ibn Hazm mengungkapkan). Atau paling tidak bersandar kepada sebuah atsar Ibn Abbas (pendapat sahabat) dan Ikrimah (termasuk tabi’in) yang berbunyi: “innama al-fithru mimma dakhol wa laisa mimma khoroj” (yang dapat membatalkan puasa itu yang masuk, bukan yang keluar) sebagaimana Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani meriwayatkannya [Al-Atsar, I, hal 25], Al-Imam Al-Thobaroni [Al-Mu’jam Al-Kabir, IX, hal 921] Imam Al-Baihaqi di [Al-Sunan Al-Shughro, II hal 101].
Sementara, pendapat sahabat atau tabi’in bukanlah argument yang dapat dijadikan landasan hukum ? karena dalam pandangan Imam Syafii adalah: “Bagaimana aku dapat jadikan pandangan mereka sebagai landasan hukum? sementara jika aku hidup di zaman mereka akan aku balikkan argumentasi mereka?”. Sehingga, beliau tidak mengambil pandangan sahabat atau tabiin sebagai argumentasi dalam menggali hukum fiqh.

Nah, pendapat manakah yang lebih sesuai dalam permasalahan ini untuk masa ini ?
Dengan melihat maqosid al-syari’ah dalam hal puasa, yaitu:
(1) menghindari semua hal yang masuk dalam kategori “makan dan minum secara sengaja”,
(2) muntah dengan sengaja dan
(3) melakukan hubungan seks pada siang hari dengan disengaja. Yang dapat membatalkan puasa hanya terbatas pada 3 hal ini, dan selebinya tidak membatalkan puasa. Seperti: ludah, dahak, cipratan air yang masuk ke hidung, telinga, qubul, ataupun dubur; maka puasanya tidaklah batal. Dan ini ialah pendapat Imam Al-Hasan Bin Sholeh salah satu pembesar madzhab Hanafiyah [Al-Mughni, III, hal 119, al-Bayan, III, hal 503] dan pendapat Ibnu Hazm Al-Dhohiri salah satu pembesar madzhab dhohiri [Al-Muhalla, IV, hal 402].

Tak jarang kita temui seseorang yang mengambil pendapat ulama yang menyatakan bahwa 7 hal diatas dapat membatalkan puasa secara mutlak. Tentu hal ini dapat menanamkan rasa was-was/keragu-raguan dalam beribadah, sehingga menilai semua ibadah-ibadahnya batal. Bukankah ini adalah satu penyakit yang perlu diobati dan jika perlu dibasmi?. Dan bukankah was-was itu ialah kegilaan di dalam akal, dan kebodohan dalam memahami syariat (khobalun fil aql wa jahlun bisy-syar’i’) sebagaimana Al-Ghozali mengungkapkan. sehingga, dengan mengambil pandangan fiqh yang menyatakan bahwa yang membatalkan hanyalah 3 hal yang dipaparkan tadi, maka akan bermanfaat untuk menghilangkan was-was yang mendatangi sebagian saudara kita.

Moslem Friend

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

Translate »