Ketika Massa Muslim Berkumpul

Beberapa bulan, saya sempat terpekur dalam kekhawatiran melihat gelombang massa aksi bela Islam-bela Ulama yang diakui atau tidak diakui, momentum itu terbentuk dari sebuah alasan dan desain peristiwa yang begitu politis. Kekhawatiran itu semakin menjadi setelah membaca beberapa ulasan dalam jurnal Maarif Institute antara lain dari Ahmad Najib Burhani, Mohammad Iqbal Ahnaf dan Airlangga Pribadi Kusman. Dalam jurnal edisi “Pasca Bela Islam” itu, saya menemukan poin-poin yang jika boleh diringkas saya sebut sebagai “Hal-hal berbahaya namun tidak disadari terjadi dalam aksi bela Islam”, satu diantaranya adalah soal: Populisme Islam atau Fragmentasi Otoritas Keberagamaan.

Bisa dibilang kita kecolongan. Hampir dua dasawarsa pasca Reformasi, Pemerintah bisa dibilang terlalu lunak pada paramiliter berbasis agama, juga ormas-ormas yang menyeru anti-Pancasila, bersamaan dengan populisme agama ala Arab Spring yang terus dikampanyekan lewat media-media alternatif.

Fragmentasi otoritas keagamaan adalah terpecah-pecahnya otoritas keagamaan seperti ironi ketika anjuran dari Saif Agil Siradj, Ketua Umum PBNU untuk tidak bergabung dalam Aksi Bela Islam III dan fatwa sholat Jumat di jalanan tidak sah ternyata luput dipatuhi. Tentu afiliasi keormasan dari pesantren-pesantren NU yang pergi ke Monas dengan berjalan kaki itu perlu diperiksa lagi, namun tidak dipungkiri bahwa banyak warga NU yang bergabung mendukung Aksi Bela Islam 212.

Demikian pula anjuran Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah yang tidak digubris. Warganya justru memilih untuk bergabung dengan Rizieq Syihab, Aa Gym, Arifin Ilham, Bachtiar Natsir dan Zaitun Rasmin untuk melakukan aksi yang terpusat di tugu Monas Jakarta.

Kehadiran Jokowi dan pimpinan Pemerintah pada Sholat Jumat di Monas untuk mendengarkan khutbah Jumat dari Rizieq Syihab adalah blunder yang seharusnya tidak dilakukan dalam posisinya sebagai pemimpin negara. Gus Yahya Cholil Staquf berujar, Jokowi seharusnya aman datang seusai sholat Jumat agar tidak melegitimasi aksi Rizieq, atau Jokowi naik mimbar dan berkhotbah bahwa aksi ini keliru… Kamu ini harusnya begini lho Ziq Rizieq… (hehehe)

Meskipun peserta aksi yang datang ke Monas sifatnya beragam: mulai dari yang khawatir dituduh anti-Islam atau dituduh menjadi pembela penghina Al Qur’an, sekadar tak mau ketinggalan dalam arus massa, hadir karena menganggap acara itu sebagai party atau festival hingga menghasilkan beragam foto selfie, hadir karena motivasi ideologis yang menganggap aksi ini bagian dari jihad, hingga berdasar kepentingan politik pilkada karena merupakan pendukung atau tim sukses dari kandidat gubernur tertentu dalam Pilkada.

Namun yang jelas, fragmentasi telah terjadi. Rizieq syihab, jika dianggap sebagai ulama, ia adalah bagian dari ulama pinggiran yang dalam istilah akademik dianggap sebagai low-brow ulama dan sering dikontraskan dengab high-brow ulama seperti Quraish Shihab atau Ma’ruf Amin. Bahkan, Amin Abdullah sering menyebut Rizieq dan FPI sebagai noisy minority (kelompok kecil yang berisik).

Berbeda dari NU dan Muhammadiyah yang memiliki berbagai amal usaha semisal rumah sakit, sekolah, lembaga penelitian dan pesantren yang harus selalu diurus, gerakan Rizieq dan FPI tentu tidak sesibuk itu. Gus Yahya Cholil Staquf sekali lagi pernah berujar,

“Para habib asyroful ula zaman dulu itu hadir di Indonesia sejak berabad lalu benar-benar untuk mengembangkan peradaban Islam. Oleh karenanya keislaman tradisi dan pesantren tumbuh subur. Kau lihatlah KH Maimoen itu, percaya kau bahwa Syaikhona orang Jawa tulen? Lihat saja wajahnya, beliaulah habib asyroful ula. Asyroful akhir yang kerjaannya berisik akhir-akhir ini itu puluhan tahun numpang di Indonesia juga nggak pernah bikin pesantren, wong mereka itu mungkin aslinya pengungsi. Negara asalnya perang terus, hancur. Kalau jadi ulama, mau ngajarin apa ke Indonesia? Mereka dong yang harusnya belajar dari kiai-kiai kita bagaimana caranya memelihara peradaban.”

Tetapi bagaimanapun, momentum Rizieq memberi khotbah itu kemudian menjadi legitimasi FPI untuk keesokan harinya mengeluarkan surat edaran ke musala-musala yang membaiat dirinya sebagai Imam Besar Umat Islam.

Para peserta aksi mungkin tidak semuanya menerima apa-apa yang dilakukan Rizieq dalam upayanya untuk mengambil panggung, tapi efeknya sudah terlanjur terjadi. Semakin banyak aksi boikot-boikot diteriakkan, semakin aneh-aneh saja tindakan mereka atas nama ayat Al Maidah, mulai dari wisata hingga produk roti yang menyeru politik. Siapa yang menista?

Pagi ini, dalam rangka menyambut Harlah Hijriyyah NU, di Sidoarjo digelar Istighotsah Kubro. Tidak ada takbir yang menyeru membunuh, tidak ada istilah kafir dalam Negara Demokrasi, tidak ada bendera hitam Panji Ar Rayah yang kerap digunakan untuk menyeru perang.

Meskipun efek aksi bela Islam salah satunya juga adalah kafir mengafirkan serta sesat menyesatkan yang awalnya dianggap tabu justru kini menjadi pop-culture, semoga ikhtiar kecil istighotsah ini menjadi cermin bahwa negeri kita masih baik-baik saja.

Yalal wathon.
Hubbul wathon minal iman.

Update: Karena banyak sekali yang khawatir terhadap pendiskreditan FPI dan melempar istilah “persaudaraan Islam”, tulisan saya tahun lalu cukup menjelaskan sikap saya pada FPI (http://islami.co/islam-islamisme-dan-penyeragaman-kebodohan/ ) ; dan saya lebih suka memakai ukhuwah wathoniyah sejajar dengan ukhuwah Islamiyah. Kalau saudaranya nakal, ya mesti dijewer to 🙂

Selanjutnya, kalau tetap nggak paham maksud tulisan ini ya sudah, tidak apa-apa. Sekian dan terima tuduhan serta gajian ??

Kalis Mardiasih

Moslem Friend

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

Translate »