Kisah Kiai Chudlari antara bangun Masjid dan Seni Reog

Kala itu di tahun 1957-an, ketegangan terjadi antara Santri Pesantren Tegalrejo Magelang dan masyarakat desa setempat. Kedua pihak memperebutkan alokasi dana desa (bondo deso). Kalangan santri bersikeras agar dana desa dipakai untuk tambahan pembangunan masjid karena masjid pesantren sudah tak sanggup menampung luapan jamaah, termasuk jamaah dari luar pesantren.

Sebaliknya, kelompok kesenian reog desa bersikukuh agar dana desa dipakai untuk membeli gamelan demi kemajuan kesenian desa.

Perseteruan sangat keras berawal. Masing-masing pihak tak ada yang mau mengalah. Lurah pun tak bisa mengambil putusan. Hari-hari dipenuhi dengan adu argumentasi.

Akhirnya, persoalan ini dibawa ke Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang KH Muhammad Chudlori.

Di hadapan sang kiai, para santri mengajukan argumentasi bahwa upaya merenovasi masjid sangat penting dan mendesak. Sebaliknya, perwakilan kelompok kesenian reog berpendapat bahwa pengembangan kesenian tidak kalah pentingnya.

Di luar dugaan, Kiai Chudlori mengamini pendapat perwakilan kelompok kesenian reog itu. Kiai Chudlori berpandangan bahwa kemajuan kesenian reog layak diutamakan daripada merenovasi masjid.

Tentu saja, putusan sang kiai ini begitu menggembirakan para pegiat kesenian reog. Mereka berterima kasih dan berpamitan pulang.

“Mengapa kiai lebih mengutamakan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan kita sendiri?” tanya seorang santri.

“Kesenian reog itu juga kebutuhan kita. Kalau makin maju, kita undang mereka ke pesantren,” jawab kiai tenang.

“Tetapi, bukankah membangun masjid jauh lebih penting daripada memajukan kesenian reog?” tanya santri yang lain.

“Betul, lantas ketika masjid sudah megah dan menampung banyak jamaah, untuk apa?” kiai Chudlori balik bertanya.

“Agar jamaah semakin banyak dan pesantren berkembang,” jawab para santri.

“Nah, ketika masjid dan pesantren sudah berkembang, apa manfaatnya untuk orang desa?” tanya Kiai Chudlori sekali lagi.

Para santri saling berpandangan mata, bisu tanpa jawaban.

Sang kiai melanjutkan, “Ketika kita mendahulukan kepentingan orang desa, mendahulukan kebutuhan kelompok kesenian reog itu, kelak masjid dan pesantren akan tumbuh dengan sendirinya.”

Dialog di atas menunjukkan kualitas kearifan seorang kiai yang lebih mementingkan kebutuhan publik daripada kebutuhan yang lebih kecil. Bagaimanapun, membangun masjid adalah kepentingan privat yang kemanfaatan sosialnya berjangkauan terbatas. Sebaliknya, pengembangan kesenian reog merupakan kebutuhan publik yang berjangkauan luas, yang bahkan manfaatnya dapat dirasakan juga oleh pesantren.

Di titik ini kearifan Kiai Chudlori menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang berwasasan luas. Ia lebih mendahulukan kepentingan publik ketimbang kepentingan privat, lebih mendahulukan pengembangan reog daripada memegahkan masjid. (Haris el-Mahdi, aktivis Gusdurian Malang)

Moslem Friend

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

Translate »