Menghadiahkan Bacaan Al Quran kepada Ahli Kubur Menurut Imam Syafi’i

Judul Asli: Imam As Syafi’i Pun Hadiahkan Pahala Baca Qur’an (Hujjah-4)
Oleh: Ahmad Muntaha AM

Para pengamal tahlilan di Indonesia sering dituduh melakukan bid’ah, sesat dan diancam neraka. Lebih-lebih juga sering dibenturkan dengan pendapat Imam as-Syafi’i yang konon juga anti terhadap hadiah pahala kepada ahli kubur ( mayit )seperti yang dilakukan dalam prosesi tahlilan, padahal katanya pengamal tahlilan itu bermazhab as-Syafi’i … Kok ternyata bertentangan dengan Imam mazhabnya sendiri?

Bagaimana sebenarnya pendapat Imam as-Syafi’i? Apakah beliau benar-benar anti terhadap hadiah pahala? Bagaimana kisah nyata Imam as Syafi’i hadiahkan pahala?

Pendapat Imam as-Syafi’i Seputar Hadiah Pahala

Bila dilihat dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyah, semisal Fath al-Mu’in karya Syaikh Zainuddin al-Malibari umpamanya. Di sana jelas diterangkan bahwa Imam as-Syafi’i sebenarnya tidak anti terhadap hadiah pahala, sebagaimana pahala sedekah dan manfaat doa bagi mayit yang secara ijma’ telah diakui legalitasnya termasuk oleh Imam as-Syafi’i. Bahkan Imam as-Syafi’i sendiri menegaskan (Fath al-Mu’in, III/219):

وَوَاسَعَ فَضْلِ اللهِ أَنْ يُثِيبَ الْمُتَصَدِّقُ أَيْضًا.

“Dan dari anugerah Allah yang luas, Ia juga memberi pahala kepada orang yang bersedekah (atas nama mayit).”

Menghadiahkan Bacaan Al Quran

Kemudian terkait hadiah pahala bacaan al-Qur’an memang diriwayatkan, bahwa Imam as-Syafi’i berpendapat tidak akan sampai kepada mayit. Tapi ini pun tidak bersifat mutlak, namun dalam kondisi tertentu, yaitu ketika pembacanya hanya berniat menghadiahkan tanpa menyusulnya dengan doa. Bahkan Imam as-Syafi’i terang-terangan menjelaskan, hukum membaca al-Qur’an di sisi mayit dan menyusulnya dengan doa adalah sunnnah (Fath al-Mu’in, III/221):

وَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ عَلَى نَدْبِ قِرَاءَةِ مَا تَيَسَّرَ عِنْدَ الْمَيِّتِ وَالدُّعَاءِ عَقِبَهَا، أَيْ لِأَنَّهُ حِينْئَذٍ أَرْجَى لِلْإِجَابَةِ.

“Dan sungguh Imam as-Syafi’i dan ulama penerusnya secara terang-terangan menyunnahkan membaca al-Qur’an secukupnya di sisi mayit dan berdoa setelahnya. Maksudnya karena doa setelah membaca al-Qur’an lebih diharapkan terkabul.”

Hadiah Pahala Baca al-Qur’an Sesuai Ijma’ Ulama, Termasuk Imam as-Syafi’i

Hal ini juga dipertegas oleh pakar fikih Syafi’i asal Mesir, Syaikh Sulaiman al-Bujairami (1131-1221 H/1719-1806 M), bahwa ketika dikemas dalam doa sebagaimana doa setelah tahlil, maka menurut ijma’ ulama termasuk Imam as-Syafi’i pun, hadiah pahala akan sampai kepada mayit. Syaikh Sulaiman al-Bujairami secara lugas menyatakan (Tuhfah al-Habib, II/574):

ثُمَّ إنَّ مَحِلَّ الْخِلَافِ حَيْثُ لَمْ يُخْرِجْهُ مَخْرَجَ الدُّعَاءِ، كَأَنْ يَقُولَ: اَللَّهُمَّ اجْعَلْ ثَوَابَ قِرَاءَتِي لِفُلَانٍ، وَإِلَّا كَانَ لَهُ إجْمَاعًا كَمَا ذَكَرَهُ فِي الْمَدْخَلِ.

“Kemudian sungguh konteks perbedaan ulama tentang sampainya pahala itu sekira tidak dikemas dalam kemasan doa, seperti pelakunya berdoa: “Ya Allah, jadikanlah pahala bacaan al-Qur’anku untuk Fulan”, dan jika tidak demikian maka hadiah pahala sampai kepada mayit sesuai Ijma’ ulama sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibn al-Hajj dalam kitabnya al-Madkhal.”

Imam as-Syafi’i Pun Menghadiahkan Bacaan Al Quran (Pahala Khataman al-Quran)

Bahkan menurut Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU, Imam as-Syafi’i tidak hanya menyatakan sampainya pahala bacaan al-Quran kepada mayit, namun beliau sendiri berulang kali menghadiahkan pahala bacaan al-Quran penuh 30 juz kepada Imam Abu Hanifah selaku kakek gurunya dalam berkali-kali khataman selama seminggu. Dalam kitab KH. Hasyim Asy’ari (at-Tibyan, 16) menerangkan:

وَذُكِرَ أَنَّ الْإِمَامَ الشَّافِعِيَّ لَمَّا زَارَ قَبْرَ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا وَأَقَامَ فِيهَا نَحْوَ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَقْرَأُ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ. وَكُلَّمَا خَتَمَ خَتْمَةً أَهْدَى ثَوَابَهُ إِلَى الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ.

“Dituturkan bahwa Imam as-Syafi’I ketika ziarah ke kuburan Imam Abu Hanifah—radhiyallahu ‘anhuma— dan tinggal di sana sekitar tujuh (7) harian, beliau membacakan al-Qur’an al-‘Azhim untuknya. Setiap kali selesai satu khataman (30 juz), beliau hadiahkan pahalanya kepada Imam Abu Hanifah.

Kesimpulan

Menjadi jelas bukan? Imam as-Syafi’i tidak anti hadiah pahala al-Qur’an, tidak anti tahlilan, dan tidak anti ziarah kubur ulama. Bahkan beliau nyata-nyata menjadi teladan utama menghadiahkan bacaan al quran, ziarah, membaca al-Qur’an dan mengkhatamkannya di makam ulama. Tidak membid’ah-bid’ahkan apalagi mensyirik-syirikannya  seperti Wahabi.

________

Sumber:

  1. Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari, Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-‘Ain pada I’anah at-Thalibin(Bairut: Dar al-Fikr, tth.), II/219 dan II/221.
  2. Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami, Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khatib, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1417 H/1996 M), II/574.
  3. Muhammad Hasyim Asy’ari, at-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan, (Jombang: Maktabah as-Turats al-Islami, tth.), 16.

Ilustrasi: aboutislam

 

Sumber: aswajamuda.com

Moslem Friend

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

Translate »