Tashawuf Menurut Imam Ahmad bin Hanbal dan Syekh Ibnu Taimiyah

Tashawuf adalah bagian dari ajaran Islam, yang diambil dari akhlak mulia Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Untuk tetap terus istiqamah maka diperlukan seorang guru pembimbing, namanya adalah Mursyid. Pengalaman ilmu syariat secara kontinyu ini namanya adalah Thariqah. Tasawuf ibaratnya adalah ilmu secara teoritis, dan Thariqah adalah praktik nya. Sama halnya dengan ilmu tajwid sebagai landasan teori, dan qiraat adalah praktiknya.

Apakah ulama yang diikuti oleh aliran Salafi tidak setuju dengan Tashawuf? Tidak juga. Berikut beberapa pendapat ulama Hanabilah dan Syekh Ibnu Taimiyah tentang Tashawuf:

ﻭﻧﻘﻞ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﻘﻼﻧﺴﻲ ﺃﻥ ﺃﺣﻤﺪ ﻗﺎﻝ ﻋﻦ اﻟﺼﻮﻓﻴﺔ: ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﺃﻗﻮاﻣﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻨﻬﻢ، ﻗﻴﻞ: ﺇﻧﻬﻢ ﻳﺴﺘﻤﻌﻮﻥ ﻭﻳﺘﻮاﺟﺪﻭﻥ، ﻗﺎﻝ: ﺩﻋﻮﻫﻢ ﻳﻔﺮﺣﻮﻥ ﻣﻊ اﻟﻠﻪ ﺳﺎﻋﺔ.

Ibrahim Al-Qalansi mengutip bahwa Ahmad bin Hanbal berkata: “Tidak aku temui sebuah kaum yang lebih utama dari pada kaum Shufi”. Ada yang mengatakan: “Tapi mereka mendengarkan syair dan menikmatinya”. Ahmad bin Hanbal berkata: “Biarkan mereka bahagia bersama Allah sejenak” (Mathalib Uli Nuha, 5/253)

(ﻭاﻟﺼﻮﻓﻴﺔ: ﻫﻢ اﻟﻤﺸﺘﻐﻠﻮﻥ ﺑﺎﻟﻌﺒﺎﺩاﺕ ﻓﻲ ﻏﺎﻟﺐ اﻷﻭﻗﺎﺕ اﻟﻤﻌﺮﺿﻮﻥ ﻋﻦ اﻟﺪﻧﻴﺎ) ، اﻟﻤﺘﺒﺘﻠﻮﻥ ﻟﻠﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭﺗﺼﻔﻴﺔ اﻟﻨﻔﺲ ﻣﻦ اﻷﺧﻼﻕ اﻟﻤﺬﻣﻮﻣﺔ.

Shufi adalah orang yang sibuk dengan ibadah di segala waktu, berpaling dari materialisme, selalu ibadah dan membersihkan jiwa dari akhlak tercela

ﻭﻗﺎﻝ: اﻟﺼﻮﻓﻲ اﻟﺬﻱ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ اﻟﻮﻗﻒ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻟﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺷﺮﻭﻁ: اﻷﻭﻝ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﺪﻻ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ.

Ibnu Taimiyah berkata: Shufi yang berhak menerima wakaf disyaratkan, pertama harus orang yang adil dalam agama

اﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻼﺯﻣﺎ ﻟﻐﺎﻟﺐ اﻵﺩاﺏ اﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﻓﻲ ﻏﺎﻟﺐ اﻷﻭﻗﺎﺕ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﻭاﺟﺒﺔ؛ ﻛﺂﺩاﺏ اﻷﻛﻞ ﻭاﻟﺸﺮﺏ ﻭاﻟﻠﺒﺎﺱ ﻭاﻟﻨﻮﻡ ﻭاﻟﺴﻔﺮ ﻭاﻟﺼﺤﺒﺔ ﻭاﻟﻤﻌﺎﻣﻠﺔ ﻣﻊ اﻟﺨﻠﻖ، ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺁﺩاﺏ اﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﻗﻮﻻ ﻭﻓﻌﻼ،

Kedua harus berperangai dengan adab syariat di segala waktu, walaupun bukan wajib. Seperti etika makan, minum berpakaian, tidur, pergi, berkawan, interaksi sosial dan sebagainya, baik ucapan maupun perbuatan

اﻟﺜﺎﻟﺚ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺎﻧﻌﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﻣﻦ اﻟﺮﺯﻕ، ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻤﺴﻚ ﻣﺎ ﻳﻔﻀﻞ ﻋﻦ ﺣﺎﺟﺘﻪ

Ketiga harus menerima dengan kecukupan rezeki, sekira tidak menyimpan rezeki yang melebihi keperluannya (Mathalib Uli Nuha, 4/288)

Ma’ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Moslem Friend

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

Translate »